Jakarta, 4 Februari 2026 — Pemerintah Indonesia resmi menghentikan program insentif mobil listrik yang sebelumnya berlaku selama dua tahun terakhir. Keputusan ini merupakan bagian dari kebijakan fiskal yang berakhir pada akhir Desember 2025.
Kebijakan insentif tersebut mencakup:
- Bebas PPnBM (Pajak Penjualan atas Barang Mewah) untuk semua mobil listrik,
- PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 10% untuk mobil listrik buatan lokal dengan kandungan lokal minimal 40%, serta
- Bebas bea masuk 0% bagi mobil listrik impor dengan persyaratan bank garansi dan komitmen produksi lokal di masa depan.
Namun Moeldoko, Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), menilai penghentian insentif tersebut tidak akan berdampak besar pada masa depan mobil listrik di Indonesia. Menurutnya, industri otomotif sudah memahami batas waktu insentif sejak awal dan siap menghadapinya.
Moeldoko juga menegaskan bahwa meskipun harga jual mobil listrik kemungkinan akan naik tanpa insentif, tren harga jangka panjang tetap akan turun karena kemajuan teknologi baterai dan semakin kompetitifnya pasar. Ia memperkirakan bahwa harga mobil listrik akan makin kompetitif dibandingkan kendaraan konvensional karena biaya produksi komponen yang semakin efisien.
Dia juga mengatakan pabrikan kendaraan listrik terus bersaing dalam menawarkan harga dan model terbaik, sehingga konsumen tetap memiliki banyak pilihan meski insentif dihapus.
Konteks Pasar dan Kebijakan EV di Indonesia
Langkah pemerintah menghapus insentif ini sesuai dengan kebijakan yang lebih luas bahwa insentif untuk kendaraan listrik impor (CBU) memang direncanakan habis pada 31 Desember 2025, tanpa perpanjangan. Langkah ini bertujuan untuk mendorong pabrikan agar memproduksi dan merakit mobil listrik secara lokal dengan memenuhi target komponen dalam negeri.
Beberapa analis pasar memperkirakan bahwa berhentinya insentif dapat menaikkan harga jual EV di pasar domestik antara 8%–15% pada awal 2026 karena berakhirnya potongan pajak seperti PPN dan bea masuk.
Meski demikian, pemerintah dan pelaku industri optimis bahwa adopsi kendaraan listrik jangka panjang tetap akan berjalan mengingat dukungan terhadap produksi lokal dan pengembangan ekosistem EV di Indonesia.
Penulis: Dewi Anggraini | Editor: Rizky Maulana